Dialog Kebangsaan di Asahan: Islam Nusantara Merupakan Aktualisasi Nilai-nilai Rahmatan Lilalamin

Medan – Salah satu wujud aktualisasi nilai-nilai rahmatan lil’alamin yang ril di Indonesia adalah apa yang selama ini dikenal dengan “Islam Nusantara” yang digagas oleh Nahdatul Ulama (NU), juga “Islam yang berkemajuan” yang digagas oleh Muhammadiyah. Islam nusantara adalah corak Islam Indonesia yang mengedepankan kelembutan, kesantunan, kedamaian, kasih sayang, toleransi, menghormati budaya lokal Indonesia.

Penegasan itu disampaikan Guru Besar UIN Sumut, Prof. Dr. Katimin MA, saat menjadi pembicara pada acara Dialog Kebangsaan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Asahan, Rabu, (10/8/2022), di Aula Polres Asahan, Kisaran. “Islam nusantara adalah corak Islam Indonesia yang mengedepankan kelembutan, kesantunan, kedamaian, kasih sayang, toleransi, menghormati budaya lokal Indonesia, “ ujar Prof. Katimin.

Contohnya, kata Prof. Katimin, acara “selametan” waktu pelaksanaannya, tiga hari, tujuh hari, dan 40 hari adalah budaya yang diwarisi sejak dahulu, kemudian diisi dengan zikir, bacaan alquran, tahlil dan doa bagi yang meninggal. Demikian juga rumah ibadah (masjid) seperti menara (manaroh), tempatnya api yang disembah agama Majusi (Zoroaster). Kubah masjid juga berasal dari budaya, tradisi Eropa (Romawi), bukan dari Arab.

“ Masih banyak lagi tradisi tradisi ataupun budaya Islam yang mengakomodasi budaya atau peradaban suku bangsa lain. Intinya, budaya Islam berasal dari dialektika yang panjang dari berbagai tradisi budaya dan peradaban yang ada di berbagai belahan dunia ini, “ cetus Prof. Katimin.

Menurut Prof. Katimin, jika dikaitkan dengan aspek adat istiadat, dan budaya serta radikalisme yang biasanya mengatasnamakan agama, seperti yang belakangan ini muncul sekelompok umat Islam yang merendahkan budaya bangsa sendiri dan sebaliknya menyanjung setingi tingginya budaya Arab (Arabisme). Mereka inilah bagian dari pengusung ideologi trans-nasional (Salafi Wahabi) ala Timur Tengah Arab Saudi.

Baca Juga  Gencatan Senjata.. Bentrokan Besar-Besaran di Daerah Pemukiman Khartoum Sudan Akhirnya Usai

Paham ini telah membelenggu, memasung cara beragama. Agama menjadi alat pembenaran untuk tujuan-tujuan yang praktis, kepentingan pribadi dan kelompok. Paham ini telah menimbulkan masalah di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Anak-anak, generasi muda dicuci otaknya (brain washing) sehingga membenci orang tuanya, membenci masyarakat, adat-istiadat, budaya hingga bangsa dan negaranya sendiri. Ia dan kelompoknya sendiri yang dianggap paling benar, sementara yang lain salah.

Akhirnya, kata Prof. Katimin,  agama yang seharusnya menjadi petunjuk, ruh, cahaya, kedamaian dibenturkan dengan kebangsaan. Dengan kata lain Islam dan nasionalisme dibenturkan seperti di Timur Tengah. Karena Islamnya Islam yang keras ala Ikhwanul Muslimin, model Hasan al-Bana dan Sayyid Qutb yang meletakkan dasar radikalisme ekstrim ke Ikhwanul Muslimin yang ia sebut sebagai jahiliyah modern dalam kerangka takfir. Pemerintahan selain Islam dianggap taghut. Hal yang sama juga dianut oleh sebagian kawasan lain seperti Saudi dengan Salafi dan Wahabinya.

Source: Garda Medan News

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *