Krisis Vaping Remaja Mengancam Masa Depan Bebas Rokok Selandia Baru

Selandia Baru sedang menghadapi krisis vaping remaja. Jumlah remaja yang vaping telah meningkat tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir, dan sekarang satu dari sepuluh remaja berusia 14 tahun vaping setiap hari. Ini merupakan kekhawatiran besar bagi pemerintah, yang berkomitmen untuk menjadi bebas rokok pada tahun 2025.

Faktor-faktor yang berkontribusi pada peningkatan vaping remaja:

Bacaan Lainnya
    • Ketersediaan vape beraroma. Vape tersedia dalam berbagai rasa, termasuk permen, buah-buahan, dan makanan penutup. Rasa-rasa ini menarik bagi remaja, dan membuat vaping tampak lebih menyenangkan dan kurang berbahaya daripada merokok.
    • Kurangnya regulasi produk vaping di Selandia Baru. Tidak ada undang-undang yang membatasi penjualan vape kepada anak di bawah umur, dan tidak ada batasan jumlah nikotin yang dapat ada dalam cairan vape. Ini membuat mudah bagi remaja untuk mendapatkan vape, dan membuat mereka lebih mungkin kecanduan nikotin.

Pemerintah telah mengambil beberapa langkah untuk mengatasi krisis vaping remaja. Pada Juni 2023, mereka mengumumkan aturan baru yang akan melarang sebagian besar vape sekali pakai, tidak mengizinkan toko vape baru dalam jarak 300 meter dari sekolah, dan menerapkan deskripsi rasa generik.

Aturan-aturan ini merupakan awal yang baik, tetapi tidak cukup untuk mengatasi masalah tersebut. Pemerintah perlu melakukan lebih banyak untuk mengatur penjualan vape kepada anak di bawah umur dan untuk membatasi jumlah nikotin yang dapat ada dalam cairan vape.

Langkah-langkah yang telah diambil pemerintah untuk mengatasi krisis vaping remaja:

    • Pada Juni 2023, pemerintah mengumumkan aturan baru yang akan melarang sebagian besar vape sekali pakai, tidak mengizinkan toko vape baru dalam jarak 300 meter dari sekolah, dan menerapkan deskripsi rasa generik.
    • Pemerintah juga sedang mempertimbangkan langkah-langkah lebih lanjut untuk menindak vaping remaja, seperti menaikkan usia minimum untuk membeli vape menjadi 21 tahun.
Baca Juga  Huawei Resmi Memperkenalkan TWS Premium Terbaru, Huawei FreeBuds Pro 3

Dampak krisis vaping remaja:

    • Krisis vaping remaja merupakan ancaman serius bagi masa depan Selandia Baru yang bebas rokok. Jika pemerintah tidak mengambil tindakan untuk membendung masalah tersebut, itu bisa menghambat kemajuan negara menuju menjadi bebas rokok selama bertahun-tahun.
    • Vaping remaja juga dapat menyebabkan generasi baru pecandu nikotin. Nikotin adalah zat adiktif yang dapat berdampak negatif pada kesehatan remaja, termasuk meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan kanker.

Krisis vaping remaja merupakan ancaman serius bagi masa depan Selandia Baru yang bebas rokok. Jika pemerintah tidak mengambil tindakan untuk membendung masalah tersebut, itu bisa menghambat kemajuan negara menuju menjadi bebas rokok selama bertahun-tahun.

Berikut adalah beberapa informasi tambahan tentang krisis vaping remaja di Selandia Baru:

  • Sebuah studi oleh University of Auckland menemukan bahwa jumlah remaja berusia 14 tahun yang vaping setiap hari telah meningkat tiga kali lipat, dari 3,1% pada tahun 2019 menjadi 9,6% pada tahun 2021.
  • Pemerintah memperkirakan bahwa saat ini ada lebih dari 100.000 anak muda di Selandia Baru yang vaping.
  • Vaping sekarang merupakan bentuk penggunaan tembakau yang paling umum di kalangan remaja di Selandia Baru.
  • Pemerintah telah memperingatkan bahwa vaping remaja dapat menyebabkan generasi baru pecandu nikotin.
  • Pemerintah sedang mempertimbangkan langkah-langkah lebih lanjut untuk menindak vaping remaja, seperti menaikkan usia minimum untuk membeli vape menjadi 21 tahun.

Krisis vaping remaja adalah masalah kompleks yang tidak ada solusi mudah. Namun, jelas bahwa pemerintah perlu mengambil tindakan untuk mengatasi masalah tersebut. Jika pemerintah tidak bertindak, itu bisa berdampak buruk pada kesehatan dan ekonomi Selandia Baru.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *