Rusia dan China, Adu Bisnis Produk Laut di Tengah Kontroversi Air Limbah Fukushima

Pelarangan impor makanan laut Jepang oleh China membuka peluang bagi Rusia untuk menggenjot ekspor produk lautnya ke negara tersebut. Namun, persaingan antara kedua negara tersebut di pasar produk laut global diperkirakan akan semakin ketat di tengah kontroversi air limbah Fukushima.

Rusia adalah salah satu pemasok produk kelautan terbesar ke China. Sebanyak 894 perusahaan Rusia diizinkan mengekspor makanan laut, kata Rosselkhoznadzor, pengawas keamanan pangan Rusia, pada Juli 2023.

Bacaan Lainnya

China adalah tujuan lebih dari setengah ekspor produk perikanan Rusia Januari dan Agustus 2023. Ekspor didominasi oleh ikan pollock, ikan haring, ikan sebelah, ikan sarden, ikan kod, dan kepiting.

Pelarangan impor makanan laut Jepang oleh China dipicu oleh kekhawatiran tentang risiko kontaminasi radioaktif setelah negara tersebut mulai melepaskan air limbah yang telah diolah dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PKN) Fukushima yang hancur akibat tsunami pada 2011.

Jepang mengatakan kritik dari Rusia dan China tersebut tidak didukung oleh bukti ilmiah dan tingkat polusi di air akan berada di bawah batas yang dianggap aman untuk diminum berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Namun, Rosselkhoznadzor mengatakan pihaknya telah memperketat pemeriksaan impor makanan laut Jepang meskipun volumenya tidak signifikan.

Regulator juga mengatakan arah arus di Timur Jauh Rusia, tempat sekitar 70% makanan laut Rusia ditangkap, akan mencegah kontaminasi produk laut yang ditangkap oleh kapal-kapal Rusia.

Mereka juga memperketat kontrol radiologi terhadap makanan laut yang ditangkap di perairan Rusia yang relatif dekat dengan Fukushima dan akan menguji sampel tertentu untuk mengetahui tingkat radiasi.

Baca Juga  Tren Deforestasi Global Meningkat, Janji-Janji Perlindungan Hutan Belum Terpenuhi

Kontroversi Air Limbah Fukushima

Pelarangan impor makanan laut Jepang oleh China merupakan pukulan bagi industri perikanan Jepang, yang bernilai sekitar USD15 miliar per tahun.

Jepang telah lama merencanakan untuk membuang air limbah yang telah diolah dari PKN Fukushima ke laut. Namun, rencana tersebut menuai kontroversi dari berbagai pihak, termasuk China, Rusia, dan Korea Selatan.

Para kritikus berpendapat bahwa air limbah tersebut masih mengandung radioaktif dan dapat membahayakan lingkungan laut.

Jepang mengatakan bahwa air limbah tersebut telah diolah dan tingkat radiasinya telah diturunkan ke tingkat yang tidak berbahaya. Namun, para kritikus berpendapat bahwa tingkat radiasi tersebut masih bisa meningkat seiring waktu.

Persaingan di Pasar Produk Laut Global

Pelarangan impor makanan laut Jepang oleh China membuka peluang bagi Rusia untuk menggenjot ekspor produk lautnya ke negara tersebut.

Namun, persaingan antara kedua negara tersebut di pasar produk laut global diperkirakan akan semakin ketat.

Rusia dan Jepang sama-sama memiliki potensi besar untuk menjadi pemasok utama produk laut. Rusia memiliki sumber daya alam yang melimpah, sementara Jepang memiliki teknologi dan infrastruktur yang maju.

Beberapa analis memperkirakan bahwa persaingan antara kedua negara tersebut akan mendorong inovasi dan efisiensi di industri perikanan global.

Namun, analis lain berpendapat bahwa persaingan tersebut dapat merugikan konsumen, karena bisa menyebabkan kenaikan harga produk laut.

Analisis Perdangan Rusia dan China

Larangan impor makanan laut Jepang oleh China adalah pukulan telak bagi industri makanan laut Jepang. Hal ini dapat mengurangi ekspor makanan laut Jepang hingga 10%, menurut Kementerian Pertanian Jepang.

Rusia, di sisi lain, memiliki kesempatan untuk memanfaatkan situasi ini. Rusia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan industri perikanan yang berkembang pesat. Dengan meningkatkan ekspor produk lautnya ke China, Rusia dapat meningkatkan pendapatannya dan memperkuat posisinya di pasar makanan laut dunia.

Baca Juga  ASUS Zenfone 10 Siap Meluncur di Indonesia, Desain Kompak, Performa Unggul, dan Kamera Terbaik!

Namun, Rusia harus mengatasi kekhawatiran China tentang keamanan makanan laut. Rusia dapat melakukan ini dengan meningkatkan transparansi dan bekerja sama dengan China untuk mengembangkan standar keamanan makanan laut bersama.

Kemungkinan Dampak Perdangan Rusia dan China

Larangan impor makanan laut Jepang oleh China dapat memiliki dampak signifikan terhadap kedua negara.

Bagi Jepang, larangan ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Industri makanan laut Jepang adalah salah satu industri terbesar di negara tersebut, dan menyumbang sekitar ¥3,5 triliun (Rp43 triliun) untuk produk domestik bruto (PDB) Jepang.

Bagi Rusia, larangan ini dapat menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor produk lautnya. Rusia dapat memanfaatkan kekhawatiran China tentang keamanan makanan laut Jepang untuk meningkatkan pangsa pasarnya di China.

Namun, Rusia juga harus menghadapi persaingan dari negara-negara lain, seperti Korea Selatan dan Norwegia, yang juga mengekspor makanan laut ke China.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *